Haii News - Portal Berita Online Teraktual & Terpercaya | Untuk Pemasangan Iklan Hubungi 081915618200

SMA Negeri 1 Sakra Terapkan Satu Shift Belajar, Komite Persiapkan Ruang dan Sarana Belajar Baru

Duka Nelayan Lombok Timur, BPJS Ketenagakerjaan Antar Santunan Ke Rumah Duka
Juli 20, 2026
Haerul Warisin: Merawat Anak Yatim adalah Tanggung Jawab Bersama
Juli 22, 2026

haiinews.com, Lombok Timur – Kepala SMA Negeri 1 Sakra, Muhammad Subandi, mengatakan sebanyak 438 murid baru resmi diterima pada Tahun Ajaran 2026/2027. Seluruh peserta didik baru tersebut terbagi ke dalam 11 rombongan belajar (rombel) dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai langkah awal mengenal lingkungan pendidikan mereka.

Pada pembukaan MPLS, Subandi mengajak seluruh murid baru untuk memanfaatkan masa pengenalan sekolah sebagai awal membangun karakter. Menurutnya, keberhasilan siswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh sikap dan perilaku sehari-hari.

“Jadilah generasi Indonesia hebat dengan mengedepankan sopan santun. Kenali sekolahmu, cintai sekolahmu, pelihara lah sekolahmu, jaga nama baik sekolahmu, dan tunjukkan kemampuan kalian melalui prestasi,” pesan Subandi di hadapan para siswa baru.

Untuk mempercepat proses adaptasi peserta didik, pihak sekolah melibatkan seluruh wali kelas dalam struktur kepanitiaan MPLS. Selain mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung, para wali kelas juga diberikan tugas melakukan observasi terhadap karakter, kebutuhan, serta kemampuan awal setiap siswa.

Menurut Subandi, hasil pengamatan para wali kelas menjadi bahan evaluasi penting bagi sekolah dalam menentukan pola pembinaan yang tepat. Karena itu, pada hari terakhir MPLS diselenggarakan sesi refleksi yang diisi dengan penyampaian kesan dan pesan dari masing-masing wali kelas terhadap peserta didik.

Salah satu temuan yang dinilai paling menarik adalah ketika sekolah memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan sendiri tempat duduk di kelas. Kebijakan sederhana tersebut ternyata memberikan dampak positif terhadap rasa percaya diri para peserta didik.

“Dari hasil observasi wali kelas, banyak sekali masukan yang menarik untuk sekolah. Salah satunya adalah memberikan kebebasan kepada siswa memilih tempat duduk sendiri. Mereka merasa bangga karena diberikan kepercayaan untuk menentukan pilihan mereka,” ujar Subandi.

Pada tahun ajaran baru ini, SMAN 1 Sakra juga melakukan perubahan besar dalam sistem pembelajaran. Atas masukan dari Komite Sekolah dan aspirasi para wali murid, sekolah memutuskan menghapus sistem dua sip dan mengupayakan seluruh rombongan belajar mengikuti kegiatan belajar mengajar pada pagi hari.

Subandi menjelaskan, pada tahun sebelumnya hanya sekitar 25 rombel yang belajar pada pagi hari, sedangkan rombel lainnya harus masuk siang. Kondisi tersebut cukup lama menjadi keluhan para orang tua siswa.

“Karena banyaknya aspirasi yang disampaikan wali murid melalui komite sekolah, tahun ini kami mengupayakan seluruh 35 rombel masuk pagi. Dengan begitu, waktu siang dapat dimanfaatkan siswa untuk belajar tambahan maupun kegiatan pengembangan diri,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komite SMAN 1 Sakra, Lalu Lintayang, membenarkan bahwa perubahan sistem belajar tersebut merupakan hasil komunikasi yang baik antara sekolah dan para wali murid. Ia menyatakan komite mendukung penuh kebijakan tersebut karena dinilai lebih efektif bagi proses belajar siswa.

Sebagai bentuk dukungan nyata, komite bersama wali murid ikut membantu menyiapkan berbagai kebutuhan sarana belajar agar seluruh siswa tetap dapat belajar pada pagi hari meskipun ruang kelas masih terbatas.

“Delapan ruang belajar tambahan sudah kami cat dan dibuatkan sekat-sekat. Kursi, meja, dan sarana pendukung lainnya juga sudah disiapkan sebagai bentuk dukungan komite yang mewakili para wali murid terhadap sekolah,” kata Lalu Lintayang.

Ia menjelaskan, untuk sementara sekolah juga memanfaatkan beberapa ruang dari bangunan proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) yang pembangunannya belum selesai setelah memperoleh izin pemanfaatan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB. Selain itu, sejumlah ruang laboratorium sementara dialihfungsikan menjadi ruang kelas agar seluruh siswa dapat belajar pada pagi hari.

“Untuk sementara sekolah memang belum memiliki ruang laboratorium yang dapat digunakan sebagaimana mestinya. Harapan kami, pemerintah dapat melanjutkan pembangunan gedung DAK sehingga seluruh ruang yang saat ini dialihfungsikan bisa kembali pada fungsi awalnya,” harapnya.

Lanjutnya lagi, Lalu Lintayang mengajak seluruh wali murid untuk terus membangun kemitraan yang baik dengan pihak sekolah. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga memerlukan dukungan dan kepercayaan penuh dari orang tua.

“Pada hari pertama MPLS, saya mewakili seluruh wali murid menyerahkan anak-anak kami kepada pihak sekolah untuk dididik, dibimbing, dan dibentuk menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, serta merasa nyaman selama menempuh pendidikan di SMAN 1 Sakra,” pungkasnya.(haii)

Pasang Iklan