

haiinews.com, Lombok Timur – Pelepasan jamaah Umroh Lombok Timur SMART di Pendopo Bupati Lombok Timur, Kamis (3/9), tidak hanya diwarnai pesan keagamaan. Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin juga menyoroti persoalan data penerima bantuan sosial dan meminta dilakukan verifikasi terhadap masyarakat yang mengajukan sanggahan terkait status desil.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati terlebih dahulu mengingatkan para jamaah bahwa perjalanan umroh bukan sekadar keberangkatan menuju Tanah Suci. Ia menegaskan, umroh sebagaimana ibadah haji merupakan panggilan Allah SWT yang harus dijalankan dengan niat yang lurus dan hati yang ikhlas.
“Luruskan niat. Berangkatlah dengan hati yang bersih, suci dan ikhlas semata-mata karena Allah SWT,” pesan Haerul Warisin kepada para jamaah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan pelepasan jamaah Umroh Lombok Timur SMART tersebut diinisiasi oleh PKK Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan itu turut dihadiri jajaran pimpinan OPD, perwakilan Kementerian Agama, serta para jamaah umroh.
Bupati meminta para jamaah memanfaatkan waktu selama berada di Tanah Suci untuk memperbanyak ibadah. Selain menjalankan rangkaian umroh, jamaah diharapkan memperbanyak doa, zikir, dan shalat sunnah.
Ia juga menitipkan harapan agar para jamaah tidak hanya mendoakan diri sendiri dan keluarga. Lombok Timur, kata Bupati, perlu ikut didoakan agar pembangunan daerah berjalan baik dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat.
“Doakan daerah kita agar Lombok Timur semakin maju dan masyarakatnya semakin sejahtera,” ujarnya.
Terkait keberangkatan jamaah, Haerul Warisin menegaskan bahwa biaya perjalanan umroh kali ini tidak bersumber dari APBD Lombok Timur. Para jamaah mendapat bantuan dari seorang dermawan yang memberikan dukungan untuk keberangkatan mereka ke Tanah Suci.
Bupati pun meminta para jamaah mendoakan dermawan tersebut. Menurutnya, bantuan yang diberikan telah membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjalankan ibadah umroh.
“Ini tidak menggunakan APBD. Ada dermawan yang membantu keberangkatan jamaah, sehingga sudah sepatutnya beliau juga kita doakan,” katanya.
Meski demikian, Haerul Warisin membuka kemungkinan pemerintah daerah ke depan mengalokasikan anggaran untuk memberangkatkan masyarakat yang memiliki prestasi atau dedikasi tinggi. Gagasan tersebut, menurutnya, dapat menjadi bentuk penghargaan atas pengabdian dan kontribusi masyarakat.
Di tengah penyampaian pesan keagamaan itu, Bupati kemudian menyinggung persoalan yang masih banyak dikeluhkan masyarakat, yakni ketidaksesuaian data penerima bantuan sosial berdasarkan status desil.
Haerul Warisin meminta Kepala Dinas Sosial Lombok Timur tidak mengabaikan masyarakat yang menyampaikan sanggahan. Setiap keberatan terhadap data harus diverifikasi untuk memastikan kondisi warga yang tercatat benar-benar sesuai dengan keadaan di lapangan.
“Kalau ada masyarakat yang menyampaikan sanggahan, datanya harus dicek dan diverifikasi. Jangan sampai yang benar-benar membutuhkan tidak mendapatkan bantuan,” tegasnya.
Menurut Bupati, data yang terbukti tidak sesuai harus segera diperbaiki melalui mekanisme yang berlaku dan dilaporkan kepada Kementerian Sosial. Langkah tersebut penting agar bantuan pemerintah tidak salah sasaran.
Persoalan data, kata dia, tidak boleh dipandang sebagai urusan administrasi semata. Kesalahan dalam pendataan dapat berdampak langsung terhadap masyarakat, terutama warga yang seharusnya menerima bantuan tetapi justru tidak masuk dalam kategori penerima.
Selain persoalan bantuan sosial, Haerul Warisin juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan telepon genggam. Ia meminta teknologi dimanfaatkan untuk kegiatan yang produktif dan memberikan manfaat.
Bupati secara khusus mengingatkan bahaya penyalahgunaan teknologi, termasuk praktik judi online yang dinilai dapat merugikan diri sendiri, keluarga, hingga kehidupan sosial masyarakat.
Di akhir sambutannya, Haerul Warisin mengajak seluruh pihak menjaga silaturahmi dan kebersamaan. Ia berharap momentum Maulid Nabi dan pelepasan jamaah Umroh Lombok Timur SMART tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
“Kalau kebersamaan dan silaturahmi ini terus kita jaga, maka persoalan daerah juga bisa kita hadapi bersama,” pungkasnya.(haii)