Haii News - Portal Berita Online Teraktual & Terpercaya | Untuk Pemasangan Iklan Hubungi 081915618200

MPLS SMAN 1 Keruak Diisi Gerakan Tanam Cabai Peduli Inflasi, Dukung Program Gubernur NTB

Program SMART Berdampak, JKN Tanggungan Baznas Turun dari 1.000 Menjadi 650 Warga
Juli 16, 2026
Petinju Lotim Borong Tiga Emas, Satu Perak dan Dua Perunggu Pada Porprov NTB
Juli 18, 2026

haiinews.com, Lombok Timur – Gerakan Sekolah Peduli Inflasi melalui Program TAPSI mulai diterapkan di SMA Negeri 1 Keruak sebagai bagian dari tindak lanjut Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Program tersebut dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah bagi peserta didik baru Tahun Ajaran 2026/2027.

Kegiatan diawali dengan penanaman bibit cabai oleh para siswa baru di lingkungan sekolah. Langkah tersebut menjadi simbol dimulainya pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan manfaat langsung bagi lingkungan.

Kepala SMA Negeri 1 Keruak, Marianom, mengatakan bahwa program TAPSI atau Tanam Cabai Penanggulangan Inflasi merupakan bentuk nyata dukungan sekolah terhadap gerakan pengendalian inflasi yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTB.

“Program ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB. Kami melaksanakannya bersamaan dengan MPLS agar sejak hari pertama masuk sekolah, peserta didik sudah dikenalkan dengan kegiatan yang memiliki nilai pendidikan dan manfaat bagi masyarakat,” ujar Marianom kepada media, belum lama ini.

Ia menjelaskan bahwa melalui penanaman cabai, para siswa diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan ketahanan pangan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.

Menurutnya, pemanfaatan lahan kosong di lingkungan sekolah menjadi salah satu cara untuk menanamkan kebiasaan produktif kepada peserta didik sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga ketersediaan pangan.

“Ini bukan sekadar menanam cabai. Anak-anak akan belajar mulai dari penyemaian, penanaman, perawatan, panen hingga penjualan hasilnya. Semua proses itu menjadi bagian dari pembelajaran yang mereka jalani di sekolah,” katanya.

Marianom menambahkan bahwa pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik agar memiliki rasa tanggung jawab, disiplin, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Ia menyebutkan bahwa program TAPSI tidak berhenti pada kegiatan seremonial saat MPLS, melainkan akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari aktivitas sekolah sepanjang tahun ajaran.

“Program ini akan menjadi tradisi bagi setiap peserta didik baru. Pelaksanaannya mengacu pada kebijakan pemerintah daerah dan akan diperkuat melalui Surat Keputusan Gubernur sehingga dapat dilaksanakan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Selain itu, sekolah juga akan mengedepankan penggunaan pupuk organik dalam proses budidaya cabai. Langkah tersebut dilakukan agar siswa memahami pentingnya pertanian yang ramah lingkungan sekaligus menghasilkan tanaman yang sehat.

Tidak hanya praktik di lapangan, sekolah juga berencana memberikan pelatihan secara berkala kepada para siswa agar mereka memahami setiap tahapan budidaya cabai dengan baik, mulai dari teknik penanaman hingga pengelolaan hasil panen.

Marianom berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal yang bermanfaat bagi peserta didik, baik selama menempuh pendidikan maupun ketika mereka kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Kalau sejak sekolah mereka sudah terbiasa memanfaatkan lahan yang ada, memahami proses bercocok tanam, dan menghargai hasil kerja sendiri, maka nilai-nilai itu akan terus terbawa dalam kehidupan mereka,” ujarnya.

Melalui program TAPSI, SMA Negeri 1 Keruak ingin menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, kepedulian sosial, dan semangat kemandirian.

Gerakan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengendalian inflasi bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan dapat didukung oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan, melalui langkah-langkah sederhana yang memberikan dampak nyata.

Dari satu bibit cabai yang ditanam, tumbuh semangat gotong royong, kepedulian terhadap ketahanan pangan, serta harapan lahirnya generasi yang peduli, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.(haii)

Pasang Iklan