
haiinews.com, Lombok Timur – Seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Lombok Timur berinisial THR mengaku menjadi korban dugaan penipuan hingga saldo rekening miliknya terkuras. Kepada awak media belum lama ini, THR menceritakan seluruh rangkaian peristiwa yang berawal dari perkenalannya dengan seorang pria bernama Haji Yudi saat berada di Surabaya.
THR mengatakan, pertemuan itu terjadi ketika dirinya sedang berolahraga lari pagi. Pada kesempatan itu ia mengaku berkenalan dengan Haji Yudi yang sama-sama sedang lari pagi, saat berkenalan Haji Yudi mengaku sebagai anak buah seorang pengusaha kaya asal Kalimantan, Haji Isham. Pengakuan itu membuat dirinya tidak menaruh rasa curiga.
“Saya kenal Haji Yudi saat lari pagi di Surabaya. Dia mengaku sebagai anak buah Haji Isham dari Kalimantan, siapa yang tidak kenal konglomerat asal Kalimantan itu ” ujar THR kepada awak media.
Menurut THR, pembicaraan mereka berlangsung cukup lama hingga akhirnya sepakat bertemu kembali di Bali untuk membahas beberapa rencana program Haji Yudi di lombok. Ia mengaku semakin yakin karena nama Haji Isham dikenal sebagai salah seorang pengusaha besar, sehingga tidak terpikir sedikit pun bahwa dirinya akan menjadi korban dugaan penipuan.
Setibanya di Bali, THR bertemu kembali dengan Haji Yudi. Saat keduanya berada di depan hotel, mereka didatangi seorang pria yang disebut berasal dari Brunei Darussalam dan mengaku sedang mencari pusat penjualan telepon genggam.
“Orang itu datang menggunakan taksi dan terlihat kebingungan mencari toko handphone. Haji Yudi bilang, ‘Kasihan dia orang asing, ayo kita bantu. Lagi pula dia dimintai ongkos sampai 1 juta oleh sopir taksi’,” tutur THR mengulang ucapan Haji Yudi.
THR kemudian ikut naik ke mobil milik Haji Yudi bersama seorang pria keturunan Tionghoa yang dipanggil “Koh” serta pria asal Brunei tersebut. Mereka lalu menuju sebuah pusat penjualan telepon genggam yang disebut terbesar di kawasan itu.
Di dalam perjalanan, pria asal Brunei yang disebut bernama Asraf mulai bercerita bahwa dirinya memperoleh komisi dari penjualan telepon genggam dalam jumlah besar. Ia mengaku ingin membagikan sebagian uang itu kepada mereka.
“Kalau tidak salah namanya Asraf. Dia menunjukkan saldo rekeningnya, nilainya miliaran. Setelah melihat saldo itu, saya, Haji Yudi, dan Koh jadi percaya dengan cerita yang disampaikan,” kata THR.
THR mengaku, setelah berhasil membangun kepercayaan, pria tersebut kemudian menawarkan untuk mentransfer sejumlah uang kepada dirinya, Haji Yudi, dan Koh. Karena tidak membawa kartu ATM, THR mengaku memberikan nomor rekening dan akses mobile banking miliknya.
“Rencananya dia mau transfer uang ke rekening saya. Karena saya tidak punya ATM, saya kasih nomor mobile banking saya. Mungkin dari situ saldo saya dikuras. Saya seperti dihipnotis karena terus mengikuti semua arahannya,” ujarnya.
Ia juga mengaku selama proses tersebut telepon genggam miliknya lebih banyak dipegang oleh pria yang dipanggil Koh bersama Haji Yudi. Kondisi itu, menurut THR, membuat dirinya tidak mengetahui secara pasti aktivitas yang dilakukan terhadap perangkat miliknya.
THR menjelaskan bahwa dirinya memiliki dua rekening, yakni di Bank NTB Syariah dan BRI. Menurut pengakuannya, kedua orang tersebut beralasan ingin memindahkan dana dari rekening Bank NTB ke rekening BRI agar proses transfer bantuan dari pria asal Brunei itu lebih mudah dilakukan.
“Mereka bilang saldo di Bank NTB dipindahkan dulu ke rekening BRI. Saya nurut saja. Mereka juga melakukan transfer 10 juta sebanyak lima kali dengan alasan memastikan rekening saya masih aktif,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, THR mengatakan Haji Yudi juga sempat melakukan transfer kepada ajudannya sendiri sebanyak dua kali dengan nominal 50 juta dan 40 juta. Hal tersebut semakin membuat dirinya yakin bahwa transaksi yang dilakukan merupakan proses yang benar.
“Karena melihat dia mentransfer uang ke ajudannya sendiri, saya semakin percaya. Semua kejadian itu berlangsung di dalam mobil,” tutur THR.
Setelah seluruh proses selesai, THR diantar kembali ke hotel tempatnya menginap. Sesampainya di hotel, Haji Yudi meminta dirinya mengganti celana pendek yang sedang dikenakan. Namun saat kembali keluar dari kamar hotel, Haji Yudi bersama rekan-rekannya sudah tidak berada di lokasi.
THR mengaku baru kemudian menyadari ada kejanggalan. Ia mengatakan sebelumnya Haji Yudi juga sempat memperlihatkan isi rekening pribadinya yang disebut bernilai puluhan miliar rupiah sehingga semakin menguatkan keyakinannya bahwa pria tersebut benar-benar memiliki kemampuan finansial yang besar.
“Satu rekening saja saldonya sekitar 60 miliar. Total saldo yang dia perlihatkan nilainya miliaran rupiah. Karena sebelumnya dia mengaku anak buah Haji Isham, saya benar-benar percaya dia bukan penipu,” katanya.
Selain mengaku sebagai anak buah pengusaha besar, lanjut THR, Haji Yudi juga menyampaikan rencana investasi di sektor pariwisata di Kabupaten Lombok Timur. Bahkan ia disebut ingin menyalurkan bantuan kepada masyarakat kurang mampu.
Janji investasi dan aksi sosial tersebut membuat THR semakin yakin hingga akhirnya mengikuti seluruh arahan yang diberikan.
Hingga kini, THR mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah, atas peristiwa ini bisa jadi pelajaran bagi siapapun agar tidak gampang percaya dengan iming-iming yang tidak masuk akal.
Hingga berita ini diterbitkan, peristiwa tersebut hanya berdasarkan keterangan THR kepada awak media. Belum ada laporan resmi kepada aparat penegak hukum.(haii)