

haiinews.com, Lombok Timur – SMA Negeri 1 Sakra terus memperkuat program peningkatan mutu pendidikan melalui penguatan literasi dan numerasi. Upaya tersebut dilakukan dengan menggandeng tiga lembaga mitra, yakni Balai Bahasa, RBR, dan Nyalanesia. Program ini menjadi salah satu langkah strategis sekolah untuk meningkatkan kemampuan dasar peserta didik sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran akademik.
Kepala SMA Negeri 1 Sakra Muhammad Subandi kepada awak media, diruang kerjanya pada hari Sabtu (13/06), ia menjelaskan bahwa penguatan literasi dan numerasi menjadi prioritas karena adanya kecenderungan penurunan capaian pada kedua aspek tersebut yang menjadi perhatian dunia pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut perlu direspons melalui berbagai program yang mampu mendorong peningkatan kemampuan siswa secara berkelanjutan.
Ia mengatakan bahwa literasi dan numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, kemampuan tersebut mencakup pemahaman informasi, pengolahan data, berpikir kritis, hingga kemampuan mengambil keputusan berdasarkan fakta dan logika.
Menurutnya, kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi utama dalam seluruh proses pembelajaran. Karena itu, semakin baik kemampuan siswa dalam kedua bidang tersebut, maka semakin mudah pula mereka memahami berbagai materi pelajaran yang diberikan di sekolah.
Untuk mendukung program tersebut, SMA Negeri 1 Sakra menjalin kerja sama dengan Balai Bahasa. Kolaborasi ini difokuskan pada pembinaan literasi dan numerasi melalui penguatan kemampuan baca tulis dasar sebagai bekal penting bagi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Selain itu, sekolah juga bekerja sama dengan Rumah Belajar RB-R dalam program penguatan literasi, numerasi, dan persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Program tersebut dirancang untuk membantu siswa meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai bentuk evaluasi akademik.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa pendampingan dari RB-R diberikan secara berkelanjutan. Tidak hanya menjelang pelaksanaan TKA, tetapi juga hingga proses seleksi masuk perguruan tinggi selesai, mulai dari jalur prestasi, UTBK, hingga jalur mandiri.
Ia menyebutkan bahwa banyak perguruan tinggi masih menjadikan hasil tes akademik sebagai salah satu pertimbangan dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Karena itu, siswa membutuhkan pendampingan yang konsisten agar mampu bersaing dalam berbagai jalur seleksi yang tersedia.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menentukan sendiri jumlah siswa yang mendapatkan pendampingan intensif. Kebijakan tersebut diambil karena seluruh pembiayaan program berasal dari anggaran sekolah sehingga harus disesuaikan dengan kemampuan pembiayaan yang tersedia.
Sementara itu, kerja sama dengan Nyalanesia difokuskan pada pengembangan budaya literasi dan kemampuan menulis siswa maupun guru. Sebanyak 50 siswa dan 5 guru telah mengikuti program pendampingan yang diselenggarakan oleh lembaga tersebut.
Dari hasil pendampingan tersebut, sebanyak 55 karya puisi berhasil diselesaikan oleh peserta. Seluruh karya tersebut akan dihimpun dalam sebuah buku antologi yang nantinya dicetak oleh Nyalanesia dan menjadi salah satu bentuk dokumentasi hasil belajar siswa dan guru.
Subandi, mengatakan bahwa selama proses pendampingan, Nyalanesia menyediakan layanan Learning Management System (LMS) yang dapat diakses secara daring. Melalui platform tersebut, peserta memperoleh pembelajaran yang berfokus pada keterampilan menulis puisi, artikel, dan cerita pendek.
Menurutnya, layanan LMS memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Selain mendapatkan materi pembelajaran, peserta juga dapat berinteraksi langsung dengan para praktisi dan penulis yang memiliki pengalaman profesional di bidang kepenulisan.
Ia menambahkan bahwa seluruh peserta yang menyelesaikan proses pembelajaran akan memperoleh sertifikat sebagai bentuk pengakuan atas kompetensi yang telah dicapai. Pihak sekolah berharap program tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Tidak hanya sampai pada pendampingan menulis, Nyalanesia juga memberikan fasilitas penerbitan karya. Kepala sekolah menjelaskan bahwa pada akhir program, siswa dan guru akan dibantu dalam proses pencetakan buku sehingga hasil karya mereka dapat diterbitkan dengan standar yang telah ditentukan oleh lembaga tersebut.
Di sisi lain, SMA Negeri 1 Sakra juga melakukan berbagai penguatan dari internal sekolah. Salah satunya melalui penerapan pembelajaran berbasis literasi dan numerasi, pelaksanaan lesson study, serta evaluasi pembelajaran yang dirancang untuk mendorong kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Pada semester ini, sekolah mulai mengurangi penggunaan evaluasi berbasis online dan kembali menerapkan ujian berbasis kertas. Menurut Subandi, langkah tersebut bertujuan mendorong siswa lebih aktif membaca soal, menulis jawaban, serta mengurangi ketergantungan terhadap teknologi maupun penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara berlebihan.
Ia berharap seluruh upaya yang dilakukan, baik melalui penguatan internal maupun kerja sama dengan berbagai lembaga mitra, dapat meningkatkan capaian literasi dan numerasi siswa yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan dan rapor pendidikan SMA Negeri 1 Sakra.(haii)