

haiinews.com, Lombok Timur – Organisasi masyarakat Keris Sasak mendatangi RSUD dr. R. Soedjono Selong, Kabupaten Lombok Timur, Kamis (18/06), untuk meminta pertanggungjawaban manajemen rumah sakit atas dugaan pengabaian pelayanan terhadap seorang pasien yang akhirnya pulang paksa sebelum mendapatkan penanganan medis yang diharapkan.
Aksi tersebut berawal dari keluhan keluarga pasien bernama Pathurrahman, warga Desa Sakra. Pasien diketahui mengalami patah tulang setelah terjatuh dari tangga dan sebelumnya telah mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Sakra sebelum dirujuk ke RSUD dr. R. Soedjono Selong untuk memperoleh pelayanan lanjutan.
Keluarga pasien menuturkan bahwa mereka membawa Pathurrahman ke rumah sakit dengan harapan mendapatkan penanganan yang lebih cepat dan maksimal. Namun, menurut mereka, pelayanan yang diterima tidak sesuai dengan harapan sehingga menimbulkan kekecewaan di pihak keluarga.
“Kami datang ke rumah sakit karena berharap pasien segera ditangani. Tetapi yang kami rasakan justru sebaliknya. Karena merasa tidak mendapatkan kepastian pelayanan, akhirnya pasien kami bawa pulang,” ujar salah seorang anggota keluarga kepada awak media.
Pihak keluarga juga menyoroti sikap seorang oknum dokter berinisial L yang bertugas saat itu. Mereka menilai pelayanan yang diberikan kurang menunjukkan empati kepada pasien dan keluarga, sehingga meminta manajemen rumah sakit melakukan evaluasi terhadap yang bersangkutan.
Kekecewaan tersebut kemudian mendapat perhatian dari Keris Sasak. Puluhan anggota organisasi itu mendatangi RSUD dr. R. Soedjono Selong untuk menyampaikan aspirasi sekaligus meminta perbaikan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami hadir sebagai bentuk solidaritas terhadap anggota kami. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara profesional dan manusiawi kepada setiap pasien tanpa terkecuali,” kata sejumlah anggota Keris Sasak saat menyampaikan tuntutannya.
Mereka juga menyayangkan dugaan sikap oknum dokter yang dinilai kurang ramah saat memberikan pelayanan. Menurut mereka, perilaku petugas kesehatan sangat menentukan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan publik, khususnya rumah sakit milik pemerintah daerah.
“Kami tidak ingin tindakan satu orang merusak citra rumah sakit secara keseluruhan. Karena itu kami meminta pihak manajemen segera melakukan evaluasi dan pembenahan pelayanan,” tegas perwakilan massa aksi.
Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong, dr. Anjasmoro, yang menemui peserta aksi menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pasien dan keluarganya. Ia mengatakan pihak rumah sakit akan menelusuri secara menyeluruh kronologi kejadian tersebut dengan meminta klarifikasi dari tenaga medis yang bertugas saat itu.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami akan memanggil dokter yang bersangkutan untuk meminta penjelasan dan melakukan evaluasi agar pelayanan kepada masyarakat dapat terus ditingkatkan,” ujar dr. Anjasmoro.
Setelah dilakukan dialog, kedua belah pihak sepakat melanjutkan koordinasi dalam pertemuan yang dijadwalkan pada Jumat (19/6/2026) pukul 10.00 WITA di Aula RSUD Selong.
Aksi berlangsung dalam pengamanan aparat kepolisian serta dipantau unsur pemerintah daerah dan FKDM Kecamatan Selong, sebelum akhirnya massa membubarkan diri secara tertib tanpa insiden.(haii)