

teropongdesa.com, Lombok Timur – Semenjak meraih prestasi demi prestasi, desa kembang kuning kecamatan sikur, kabupaten Lombok timur (Lotim) menjadi perhatian pemerintah pusat bahkan dilirik potensinya oleh dunia internasional.
Bahkan belum lama ini desa kembang kuning mampu mengukir prestasi lagi melalui lomba kampung sehat dan dinobatkan sebagai juara satu Desa wisata dan kampung sehat di tingkat provinsi Nusa tenggara barat (NTB), dengan berkali-kalinya mendulang prestasi mengusik penasaran pihak mabes polri untuk menurunkan tim Supervisi pada hari jum”at (27/11) meninjau langsung tatanan hidup baru yang dijalankan warga Desa Kembang Kuning sehingga mampu menyandang label desa wisata bebas Covid-19.
Rombongan tim Supervisi Mabes polri yang hadir diantaranya Kombes Pol Drs Iswyoto Agoeng Doeta (ketua), Tim Supervisi Mabes Polri Kombes Pol Drs Rivai Sinambela, SH, Tim Supervisi Mabes Polri AKBP Nursyah Putra, ikut serta dalam rombongan Karo Ops Polda NTB Kombes Pol Imam Tahabroni, S.ik MH.
Kedatangan rombongan ini disambut langsung Kapolres Lotim AKBP Tunggul Sinatrio S.ik, M.H, Kaban BakesBang Poldagri Kab Lotim Haji M Isa M.Ap, Dandim 1615 Lotim yg di wakili oleh Danramil 1615 -09 Sikur Kapten Inf Keman, Kapolsek Sikur Iptu Heri Armunanto SH ,kasat intel polres lotim Iptu Larep, Kades Kembang Kuning Haji Sujian dan Masyarakat sekitar 70 orang.
Mengawali sambutannya Kapolres Lotim mengucapkan selamat datang kepada rombongan tim Supervisi Mabes polri , “Selamat datang kepada Ketua Tim Supervisi dan Rombongan, dan kami perkenalkan kondisi kampung sehat di Desa Kembang kuning dan alhamdulillah kemarin Desa Ini mendapat juara 1 Kampung sehat tingkat Provinsi,” ucapnya seraya menghadap kepala desa kembang kuning, berharap dikesempatanya akan mengurai lebih detail mengenai desanya.
“Nanti Pak kades kembang kuning akan menyampaikan kegiatan-kegiatan di Desa Ini, karena banyak aktivitas didesa ini di jadikan percontohan Oleh Desa Lain seperti di Bidang pariwisata dan pertanian, baik yang datang berwisata maupun yang datang kesini untuk bekerja,”terangnya.
Menurut pandangan Kapolres, Desa wisata kembang kuning dianggapnya sebagai pilihan alternatif bagi Touris yang merasa bosan dengan suasana laut, sehingga Desa kembang kuning bisa menjadi pilihan untuk menikmati suasana pegunungan dan persawahan.
Lebih jauh ia gambarkan mengenai pengelolaan wisata desa kembang kuning yang memprioritaskan warga lokal, “kalau tempat wisata seperti Gili Trawangan, kebanyakan dikelola orang asing, kalau disini, dari direktur sampai karyawannya semuanya warga desa kembang kuning dan rata-rata kelompok sadar wisata (Pokdarwis) fasih berbahasa inggris”jelasnya.
Sebagai Ketua Tim Supervisi Mabes Polri Kombes Pol Iswyoto agung Doeta ditempat itu mengaku kedatangannya untuk melihat pelaksanaan operasi yustisi covid-19 dan sejauh mana inovasi jajaran Polda NTB dalam menangani pandemi covid-19, meski mengaku sudah mendapatkan masukan dari berbagai sumber, namun ia katakan ingin merasakan langsung suasana desa yang menyandang desa wisata dan kampung sehat.
“dan saya rasakan semenjak masuk didesa ini, ada beberapa tempat disini sangat berbeda terlebih kami baru masuk wilayah ini nuansanya sudah berbeda dan perlakuan sikap dan sambutannya sangat luar biasa ,”akuinya sambil meminta kepala desa untuk membagikan kiat-kiatnya dalam mewujudkan desa wisata dan kampung sehat.
Dikesempatan itu kepala desa kembang kuning, haji Sujian mengulas balik inovasi yang dilakukan sehingga mendulang sekian banyak prestasi yang awalnya sebagai salah satu desa wisata pada tahun 2018, “awalnya kami diberikan predikat sebagai pengelola dana desa terbaik dan bumdes terbaik ditingkat provinsi dan pada tahun 2019 kami ikut lomba Desa wisata yang diadakan kementerian desa dan alhamdulillah kami juara 1 kategori Desa wisata berkembang,” tuturnya.
Dikesempatan itu juga ia mengurai satu persatu rutinitas Warga Desa kembang kuning yang sebagian besar bergerak di bidang pertanian, pariwisata, Usaha Kecil dan Menengah yang berjumlah 40 kelompok, dengan luas wilayah sekitar 3018 hektar dengan Jumlah penduduk sekitar 1000 kepala keluarga yang menyebar di 18 kewilayahan
Di desa ini, lanjutnya, semua aktivitas warga dijadikan sebagai obyek wisata dengan membuat paket wisata proses pembuatan kopi, paket wisata pembuatan minyak kelapa, paket wisata pengolahan lahan pertanian,” karena disini kami lebih kepada menjual proses daripada produk,”terangnya.
“Saya gambarkan harga satu buah kelapa kalau dijual paling harganya cuma 5000 rupiah, tapi kalo kami jual prosesnya bisa sampai harga 50.000 rupiah, begitu juga dengan kopi yang harga sebungkusnya 25.000 rupiah, tapi kalau kami jual prosesnya bisa sampai 250.000 rupiah per orang, begitu pula pada sektor pertanian yang di lakukan adalah proses seperti tanam padi bajak sawah Proses hasil bumi dan juga kami banyak bekerja sama karena Memiliki Bumdes dengan penyertaan modal kepada UMKM,” kata kades merincikan hasil penjualan proses sebagai wisata unggulan di desanya.
Dari kesibukan warga dengan berbagai aktivitas menghasilkan desa kembang kuning sebagai zona nol kriminal,” mungkin karena warga kami semua sibuk bekerja dan Alhamdulillah juga walaupun kondisi covid-19 masyarakat kami tetap bisa mebawa tamunya ke obyek wisata keliling-keliling sawah dan hutan sampai dengan bayaran 1,5 juta perhari,” jelasnya.
Dengan kesibukan itu pula ia mengaku kesulitan mengangkat pimpinan wilayah untuk 18 wilayah di desanya, meski mendapatkan gaji dua juta rupiah perbulan, tidak serta Merta membuat warga tergiur, “karena warga yang ditawarkan mengaku kalau uang dua juta bisa mereka dapatkan dalam satu hari,” katanya.
Dari paket wisata yang disediakan memliki Dayak tarik tersendiri untuk wisatawan lokal maupun mancanegara, adapula wisatawan yang datang untuk mengunjungi air terjun “awet muda” yang jaraknya satu kilo meter dari kantor desa, meski dalam situasi covid-19, jumlah pengunjung tercatat sampai 100 wisatawan lokal maupun wisatawan asing yang datang berkunjung dan menginap setiap hari, ” belum lama ini kami juga mendapat kunjungan dari Bapak Kabaharkam Mabes Polri untuk meninjau objek wisata dan kegiatan petani serta pegiat wisata lainnya,” tuturnya
Dikarenakan penggiat wisata didesa kembang kuning adalah warga lokal, sehingga di pastikan wisatawan tidak akan kesulitan mendapatkan kamar untuk menginap, karena setiap warga yang memiliki rumah di haruskan Memiliki satu kamar Homestay sehingga setiap keluarga memiliki kegiatan dengan pembagian peran untuk suami sebagai direktur dan istri sebagai bendahara sekaligus menjadi sekretaris.
“kelebihannya juga dalam pelayanan kepada para tamu tidak dipatok harga menginap namun lebih mengutamakan servis sehingga tamu semakin betah untuk tinggal lebih lama,” tuturnya, sembari mengucapkan terimaksih kepada Kapolda NTB yang telah mencanangkan kampung sehat sehingga wisata desa kembang kuning semakin diminati para wisatawan lokal maupun mancanegara.(TD)